Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Ikatan Aqidah dan Ukhuwah Lebih Kuat Dari Ikatan Darah

Oleh Adi Victoria, Aktivis Pejuang Khilafah
Bersaudara tak mesti sedarah…
Bersaudara tak harus serumah…
Bersaudara bukan soal daerah…
Karena persaudaraan yg benar adalah atas dasar ukhuwah islamiyyah…
Kita dipersaudarakan oleh Allah yg kita sembah…
Kita bersaudara karena Rasulullah yg menyampaikan hidayah…
Adakah persaudaraan yg lebih indah dari persaudaraan karena Allah?

ما حدث بنا؟

Kata-kata bahwa setiap hidup ini penuh lika-liku memang sering kita dengar, tapi terkadang kita lupa ketika tikungan tajam itu dihadapan, setiap manusia memiliki keistimewaan dan kekurangan tetapi jangan kita berpaling dari keistimewaan dan terus melihat kekurangan.
Sebuah kekurangan akan menjadi sebuah keistimewaan bagi orang lain, bagaimana bisa?? karena dengan kekurangan itu keistimewaan orang lain terlihat, dan menutup sisi kekurangannya..
So...jangan pernah menilai orang dari satu sisi satu kacamata, lihatlah bahwa dia memiliki hal lain yang tak kita miliki dan mampu kita miliki..
Kekurangan orang atau kelebihan orang bukan alasan untuk selalu menyematkan kelebihan dan kekurangan kepadanya , karena kesalahan bukan 100% kepadanya...
Bukankah lebih baik kita menjunjung kelebihannya dan memperbaiki kekurangannya..?? Bersambung...

TUNGGU AKU, UKHTI…

Dari Rajâ` bin ‘Umar an-Nakha’iy, dia berkata,
“Di Kufah ada seorang pemuda berparas tampan, sangat rajin beribadah dan sungguh-sungguh. Dia juga termasuk salah seorang Ahli Zuhud. Suatu ketika, dia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’ lalu –tanpa sengaja- matanya melihat seorang wanita muda mereka yang berparas elok nan rupawan.

Kata-katamu adalah ujian bagimu

Entah dari mana aku mendapatkan nasehat bahwa setiap kata yang kita ucapkan akan diujikan kepada diri kita, setiap manusia pasti mempunyai prinsip masing-masing setiap liku kehidupannya akan ia jalani berdasarkan prinsipnya.
Terkadang tanpa rasa sadar kita mengucapkan sebuah kalimat yang ringan tentang prinsip kita di kala itu.

Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!





Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleb adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah ringgi dan penyakit aula.

Sadar akan tugas awal




Manusia diciptakan Allah dengan sebaik-baik penciptaan sebagaimana telah dijelaskan dalam surat at-Tiin, tidak hanya itu saja Allah memerintahkan para malaikat sujud pada manusia pertama.. Adam..
Sungguh Allah memuliakan manusia, penciptaan manusia bukan sekedar penciptaan yang sia-sia, bukan pula menciptakan manusia hanya untuk menghuni bumi ini dan menikmati segala apa yang ada..
Allah menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaNya, menabung amal pahala untuk kembali lagi ke tempat asalnya, kembali kepada pemiliknya yaitu Allah,,,

Sebuah pensil

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
kedua:
dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
ketiga:
pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini


Hidup itu Ujian

Segala yang ada di dunia ini fana, yang abadi hanyalah Allah. 
Semua akan kembali kepada Allah dengan bekal masing-masing, banyak hadits Nabi Sallallahu 'Alihi Wassallam menjelaskan bahwa kita hambaNya di dunia ini ibarat seorang musafir yang singgah di suatu tempat hanya untuk beristirahat dan meneguk air untuk melanjutkan perjalanan. 
Kita hidup di dunia ini tak sekedar hanya menikmati segala yang Allah berikan, tetapi kita juga harus berbekal agar selamat ke tujuan akhir yaitu Akhirat, 
Tak lepas juga, untuk membedakan dan memilah hambaNya yang benar-benar beriman Allah memberikan ujian baginya..mungkinkah Allah membiarkan orang yang berkata "Aku beriman " tapi Allah tidak mengujinya???
Allah menjelaskannya dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3, Allah maha Mengetahui mana hambaNya yang benar-benar mana hambaNya munafiq. Dalam sejarah islam ketika syariat jihad dikumandangkan terlihatlah mana orang munafiq, jihad merupakan ujian, dimana ia harus jauh dari keamanan, dunia, sanak saudara yang menyayanginya,,
Apa sikap seorang mukmin ketika ujian datang?? SABAR.. itu kuncinya, Allah pun memberikan pahala yang besar bagi mereka yang sabar, "Sesungguhnya ALLAH bersama orang-orang yang sabar."
Bergembiralah wahai yang diuji,,,jika kamu sabar, Jannah menunggumu..


secuplik motivasi untuk kita bersama

DR. Aidh al-Qarni dalam bukunya "LA TAHZAN" 

Yang Lalu Biar Berlalu

        Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa engkau tidak menarik gerobak?"

"Aku benci khayalan," jawab keledai.

Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

        Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan!
اُبْتُلِيْنَا بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ،
وَابْتُلِيْنَا بِالسَّرَّاءِ فَلَمْ نَصْبِرْ

Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami diuji dengan kesempitan, maka kamipun bersabar, dan ketika kami diuji dengan kelapangan justru kami tidak sabar." (Minhajul Qashidin, 272)
Kehidupan di dunia ini memang tak luput dari ujian, ujian dalam benak sebagian orang hanyalah ujian kesusahan tapi... tahukah kita??????
Ujian bukan hanya kesusahan, dalam keadaan lapangpun sebenarnya kita sedang diuji juga...
Jikalau dalam kesusahan kita diuji apakah kita bersabar atau tidak?? Maka dalam kelapangan kita diuji apakah kita bersyukur atau malah bertambah kufur?
Dalam perkataan sahabat Nabi Sallahualaihi wassalam diatas telah tertulis bahwa bersabar dalam kesusahan lebih mudah daripada bersabar dalam kelapangan, maksud bersabar dalam kelapangan ialah teruskah kita untuk selalu bersyukur dan tidak sombong atas kelapangan itu..
Dan telah tertera dalam al-Qur’an bahwa manusia itu diciptakan untuk diuji yang disisi lain juga untuk beribadah
Dalam surat al-Insan termaktub:
إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)
 Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur  yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Ketika dalam keadaan lapang terkadang kita lupa akan siapa yang telah memberikan semuanya, kita terbuai atas kenikmatan yang dirasa...dan terkadang pula kita membanggakan diri atas kenikmatan itu,,
Tapi ........ketika kesusahan melanda apa yang dia ingat??? Penyesalan yang datang menjadikannya mengingat bahwa Allah yang Maha Besar yang dapat menolongnya,,
Ketika berdo’a dia mengkhusyukkan diri agar do’anya terkabul.
Sungguh tak sangat sopan kita sebagai hambaNya...ibarat seseorang yang diberi makan saat ia kelaparan dan melupakan jasa pemberi ketika ia telah kenyang,,
Maka renungkanlah ..
apakah kita masih termasuk hambaNya yang tak tahu diri???