Dari budak menjadi ulama

‘ATHA’ BIN ABI RABBAH
Beliau adalah Syaikhul Islam, ulama tabi’in yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Seorang mufti Masjidil Haram yang tsiqah dan ahli manasik haji. Nama asli beliau ialah Abu Muhammad ‘Atha bin Abi Rabah Aslam bin Shafwan, kunyahnya Abu Muhammad Al-Makki. Beliau berasal dari desa Al-Janad di negeri Yaman dan lahir di masa kekhalifahan Utsman Bin Affan.

‘Atha’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan penduduk Mekkah bernama Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Karena semangatnya dalam menimba ilmu maka Habibah membebaskannya dan terlepaslah belenggu perbudakan yang menghalangi beliau dalam menimba ilmu dengan sempurna.
Sejak hari itu Atha' menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat tinggalnya, menjadi rumah tempat beliau bermalam, sebagai madrasah bagi beliau memperdalam ilmu, tempat shalat untuk taqarrub kepada Allah dengan takwa dan ketaatan, sebagaimana perkataan Ibnu Juraij, “Lantai masjid menjadi kasurnya selama dua puluh tahun, dan ia adalah orang yang paling bagus salatnya”.
Beliau pun mulai mengejar warisan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wasallam dari para sahabat diantaranya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan selain mereka dari para pembesar sahabat rahimahumullah, hingga beliau mencapai kedudukan yang tinggi di keilmuan di masa beliau. Dituturkan suatu ketika Ibnu Umar datang ke Mekah lalu orang-orang pun datang mengitarinya untuk meminta fatwa, maka Ibnu Umar mengatakan, “Kalian mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku padahal di sisi kalian ada Atha bin Abi Rabah!!”
Diantara orang yang mengambil ilmu dari beliau adalah : Mujahid bin Jabar, Abu Ishaq As-Sabi'i, Abu zubair, Aamru bin Dinar, Zuhri, Qatadah, Amru bin Syua'ib, Malik bin Dinar, Al-A'masy, Yahya bin Abi Katsir, Salamah bin Kuhail, Al-Qudama', Usamah bin Zaid Al-Laitsi, Ismail bin Muslim Al-Makki, Thalhah bin Amru Al-Makki, Abdulah bin Abdurrahman bin Abi Husain, Abdullah bin Abi Najih, Al-Auza'i, Ibnu Juraij, dan masih banyak lagi.
Kedudukannya yang tinggi dan mulia tidak membuatnya sombong dan angkuh, beliau tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketinggian dan kemuliaan ilmunya tidak menjadikannya lupa diri, karena ilmu yang sesungguhnya adalah sesuatu yang dapat menghantarkan kepada ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat tawadhu di hadapan manusia.
Di antaranya kisah kealimannya sebagaimana diceritakan oleh Utsman bin ‘Atha’ Al-Khurasani, ia berkata, “Aku bersama ayahku di suatu perjalanan ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas keledai hitam, dengan baju jelek dan kasar jahitannya. serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?” Maka ayah berkata, “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah.”
Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya dan ‘Atha pun juga turun dari himarnya, lalu keduanya berpelukan dan saling menyapa. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya, sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang, keduanya dipersilakan masuk. Ketika ayah telah ke luar, aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku! Tentang apa yang anda berdua lakukan.” Maka ayah berkata, “Ketika Hisyam mengetahui bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah berada di depan pintu, beliau segera mempersilakannya masuk dan demi Allah, aku tidak bisa masuk kecuali karena dia, dan ketika Hisyam melihatnya, beliau berkata, “Selamat datang, selamat datang. Kemari, kemari.” Sehingga beliau mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya, dan menyentuhkan lututnya dengan lututnya.”
Dan di antara orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar, dan tadinya mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata, “Apa keperluan anda wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata, “Wahai Amirul Mukminin; Penduduk Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, “Baik, Wahai ajudan, tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.
Kemudian Hisyam berkata, “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?.” ‘Atha’ berkata, “Ya wahai Amirul mukminin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti arab dan pemuka Islam, maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka.
 “Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Ya wahai Amirul mukminin, Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan, mereka berdiri di depan musuh-musuh anda, dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin, maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau mereka mati, maka perbatasan akan hilang.” Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, supaya dikirim rizki kepada mereka.” “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”
‘Atha’ berkata, “Ya, wahai Amirul mukminin; Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu, karena apa yang anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk anda atas musuh anda.” Maka Hisyam berkata, “Wahai ajudan tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu.”
“Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad? ‘Atha’ berkata, “Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri anda wahai Amirul mukminin, dan ketahuilah bahwa anda diciptakan di dalam keadaan sendiri. dan anda akan mati didalam keadaan sendiri dan anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang anda lihat bersama anda.” Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu ‘Atha’ berdiri dan aku berdiri bersamanya.
Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha’ dengan membawa kantong, dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mukminin mengirim ini kepada anda.” Maka ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.” “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’, ayat:109). Demi Allah, sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.

‘Atha’ bin Abi Rabah wafat di tahun 114 H. Umur yang dipenuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa. Dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali, beliau melakukan di dalammya 70 kali wukuf di arafah. Semoga sosok ‘Atha’ dapat mengingatkan kita untuk selalu rendah hati walau berada di kedudukan yang tinggi dan terus mengingat bahwa segala yang kita punya hanya titipan Allah Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar